Laporan UNCTAD menyebutkan pula bawa bahkan dalam skenario paling optimistis, dengan tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan sebesar 10 persen, pemulihan Jalur Gaza masih akan memakan waktu puluhan tahun.
“Dengan asumsi tidak ada operasi militer dan kebebasan pergerakan barang dan orang serta tingkat investasi yang signifikan, serta pertumbuhan populasi sebesar 2,8 persen per tahun, UNCTAD memperkirakan bahwa PDB per kapita Jalur Gaza akan kembali ke level tahun 2022 pada tahun 2050,” sebut laporan itu.
Laporan terpisah yang dirilis Selasa oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) menyebutkan bahwa dengan investasi besar dan pencabutan pembatasan ekonomi, ekonomi Palestina secara keseluruhan, termasuk Tepi Barat, dapat kembali ke jalurnya pada tahun 2034. Tanpa keduanya, prediksinya selaras dengan prediksi UNCTAD.
Skenario yang lebih positif diyakini tidak mungkin.
Militan yang dipimpin Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik 250 lainnya ketika mereka menyerbu ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Sekitar 100 sandera masih berada di dalam Jalur Gaza, sepertiganya diyakini tewas.
Serangan balasan Israel yang dimulai pada hari yang sama hingga hari ini telah menewaskan lebih dari 42.000 warga Palestina, ungkap pejabat kesehatan setempat, di mana lebih dari separuh korban tewas adalah perempuan dan anak-anak. Tidak hanya itu, sekitar 90 persen dari populasi Jalur Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa juga mengungsi, tinggal di kamp-kamp tenda yang kumuh.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sendiri telah menegaskan Israel akan mempertahankan kontrol keamanan terbuka atas Jalur Gaza.
Sejak Mei, Israel telah mengendalikan semua penyeberangan perbatasan Jalur Gaza. Badan-badan PBB dan kelompok-kelompok kemanusiaan mengatakan mereka telah berjuang untuk mendatangkan makanan dan bantuan darurat karena pembatasan Israel, pertempuran yang sedang berlangsung, dan runtuhnya hukum dan ketertiban di dalam Jalur Gaza.
Tidak ada indikasi bahwa donor internasional bersedia mendanai pembangunan kembali Jalur Gaza selama masih dalam cengkeraman perang atau di bawah pendudukan Israel. Negara-negara Teluk Arab seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengatakan mereka hanya akan melakukannya jika ada jalan menuju Negara Palestina, sesuatu yang sangat ditentang Netanyahu.
Sementara itu, perang berkecamuk tanpa akhir yang terlihat.
Awal bulan ini, Israel melancarkan operasi besar lainnya di Gaza Utara — bagian wilayah yang kehancurannya paling parah — dengan klaim Hamas telah berkumpul kembali di sana.
Source : liputan6.com




